Si Samin Dibelikan Sepatu

Si Samin Dibelikan Sepatu

“Mengapa engkau merengut itu, Min?” tanya si Samaun, waktu ia bertemu dengan sahabatnya itu.

“Ah, entahlah aku ini susah,” “Mengapa Min? Hilang duitmu?”

“Bukan, tetapi bapak tak mau membelikan aku sepatu. Ia hendak membelikan kambing,”

“Membeli kambing? Kamu hendak kenduri. Min? Makan besar kita!”

“Bukan akan disembelih, akan dipelihara. Semuanya kawan-kawan sudah bersepatu, aku sendiri yang belum. Mau aku mati rasanya.”

“Nanti kau kupinjami sepatu, Min. Jangan susah!” kata si Saman menghibur-hiburkan hati sahabatnya itu.

“Kalau kawan-kawan sama-sama melancung semuanya, bagaimana aku meminjam sepatumu lagi?

Si Samaun diam, karena tak tahu lagi apa yang akan dikatakannya. “Suka benar aku, kalau aku sakit sekarang ini!”

“Jangan kau berkata begitu, Min! Sekarang penyakit sedang musim. Si Rahman sekarang sakit keras. Kata mak, kena penyakit ketumbi, mengecek tidak keruan saja, kadang-kadang ia hendak lari.”

“Kalau aku sakit macam itu, senang hatiku!” kata si Samin.

“Jangan main-main, Min! Orang yang kena penyakit ketumbi banyak yang mati.”

“Biarlah mati pun jadi.”

“Tidak takut engkau mati, Min? Awak sendiri saja di dalam tanah tidak berkawan seorang juga, barangkali sangat gelapnya dalam tanah itu.”

“Kalau begitu, biarlah sakit saja, jangan sampai mati,” kata si Samin. Rupanya ia merasa ketakutan mendengar perkataan si Samaun itu.

“Ya, barangkali kalau kau sakit, mau bapak kau membelikan sepatu itu. Aku kalau sedang sakit, apa saja aku minta tentu diberi mak.”

“Makku mau membelikan sepatu itu, bapak saja yang tidak mau.”

Pada suatu hari Si Samin banyak berpanas-panas dan mandi di sungai. Waktu ia pulang, ia merasa badannya tidak senang lagi, akhirnya ia pun demam. Makin sehari makin jadi demamnya, sehingga ia tak bangkit-bangkit dari tempat tidur. Napsu makannya patah sama sekali, sebarang makanan tak ada yang diinginnya, melainkan sepatu itu tak lepas dari angan-angannya.

Bapaknya sudah mulai khawatir, maknya sudah duduk dalam ketakutan sekali, ketika si Samin sangat keluh kesah, bertanyalah ibunya: “Di mana sakit, nak?”

“Entah!” jawab si Samin.

“Pisang panggang barangkali, ya nak?” Si Samin menggeleng.

“Hendak gulai ayam? Boleh kita sembelih ayam kita yang hitam itu.” Si Samin menggeleng pula. “Jadi apa nak, yang kau sukai?” “Meriam,” jawab si Samin.

Mak si Samin amat terperanjat mendengar jawab yang bersalahan itu, teringatlah ia akan penyakit ketumbi, macam penyakit si Rahman itu.

“Nak!” katanya seperti suara orang yang hendak menangis. “Di mana sakit?”

Si Samin menggeleng sambil memejamkan matanya. “Hendak apa kau, nak?” tanya ibunya pula. “Hendak meriam!”

“Aduh nak! Sudah sakit benar anakku ini rupanya!” kata ibunya, sambil menangis.

Bapak si Samin pun datang tergopoh-gopoh menghampiri anak yang sakit itu.

“Aduh, bukannya demam saja lagi penyakit anakku ini,” kata mak Samin, sambil mengeluh. Perkatannya sudah mencacau.

“Min! Di mana sakit?” tanya Pak Samin.

“Pestol!” kata anak yang sakit itu.

Mak Samin makin jadi-jadi tangisnya. “Nak, di mana sakit, nak!” katanya. “Lihatlah mak ini! Janganlah pertakuti mak ini Min! Ingat diri, nak!”

“Sepatu!” kata anak yang sakit pula,

“Allah Tuhanku! Karena sepatu itulah rupanya, maka anakku ini sakit! Itulah awak, karena sayangkan duit lima enam rupiah, beginilah anak jadi sakit! Allah, nak, Samin…! Dengarlah, nak! Jangan sakit lagi! Nanti mak belikan sepatu, biar mak gadai kepala mak, namun sepatu itu akan mak beli, pandanglah mak ini, nak!”

“Aku ini pun bukanlah karena tak mau membeli sepatu itu! Tetapi aku pikiri sebab hari raya lagi lama, apalah gunanya tergesa-gesa, boleh memilih yang bagus! Itu pun serta si Samin baik, dapat berjalan ke pekan, boleh ja memilih sendiri sepatu yang dikehendakinya, akan aku belilah sepatu itu!” kata bapak si Samin dengan parau suaranya, sebab ketakutan.

Si Samin sebenarnya keras demamnya, badannya panas seperti api, akan tetapi demi ia mendengar perkataan bapaknya yang telah mau membelikan barang yang sangat diinginnya itu ia pun membukakan matanya perlahan-lahan.

“Mak!” katanya dengan suara di bibir.

“Apa nak, Min, nak? Baiklah lekas, nak! Boleh kita beli sepatu itu, Kau sendiri nanti memilihnya!”

“Minum!” kata si Sarnin.

“Baik, nak! Baik, nak! Nanti mak ambil sebentar!” Si Samin pun minum seteguk dua teguk.

“Hendak bubur, nak, boleh kumasakkan! Hendak makan, boleh kita sembelih ayam kita yang gemuk itu,” kata mak si Samin dengan riang.

Kebetulan keesokan harinya demam si Samin itupun mulailah sembuh. Tiga empat hari kemudian pulihlah ia pulang semula.

Pekan yang kedua dapatlah si Samin berjalan pergi ke pekan. la masuk dengan bapaknya ke kedai tempat orang berjualan kain. Di sanalah ada dijual sepatu itu.

Balai Pustaka, 1971

Cerpen anak-anak ini merupakan karya Muhammad Kasim yang ditulis ulang SyamSalabim sebagai bahan edukasi dan literasi. “Si Samin Dibelikan Sepatu” adalah salah satu kisah pendek dari koleksi cerpen yang termaktub dalam buku Pemandangan dalam Dunia Kanak-Kanak (Si Samin). Terbitannya berhasil memenangkan sayembara menulis buku anak-anak pada tahun 1924.

Jika ada yang keberatan dengan pemuatan cerpen anak Si Samin Dibelikan Sepatu dalam blog ini, bisa langsung menghubungi kami untuk menghapusnya.